New Flinque AI now scores creator authenticity in real time across 4 platforms. See how
Verified on Instagram

tr

Grocery Store
@theoresiarumthe
@rempahgunung @jazirah_id @tokobukujazirah @moluccaproject @rumahsajange
  • eCommerce/DTC
  • Following 2.5K
  • Followers 45.5K
  • Engagement 2.27%
  • Avg comments 7

About tr

tr (@theoresiarumthe) is a Grocery Store creator on Instagram, also filed under eCommerce/DTC. The account has 45,511 followers and 942 published posts. Recent posts average 1,000 likes and 7 comments, an engagement rate of 2.27%.

With 45.5K followers, tr is a micro creator by the common 10,000 to 100,000 definition. tr follows 2,450 accounts, so the audience is roughly 19 times the size of the list followed. tr uses an Instagram professional account. Flinque files tr under Grocery Store, with eCommerce/DTC as a secondary category.

The Instagram bio for tr runs to 6 words across 5 lines. The bio mentions @rempahgunung, @jazirah_id, @tokobukujazirah and @moluccaproject. The latest activity Flinque has on record for tr dates from June 2026.

Story Highlights

Unlocking shows the title and cover image of every story highlight this creator keeps pinned to the profile.

942 Posts

Of the 10 most recent posts shown for tr, 5 are single images and 5 are carousels. No single format accounts for most of them. tr has built a substantial archive of 942 posts. Against the audience, that is roughly 48 followers for each post published. tr also keeps 13 story highlights on the profile. 5 of those 10 carry captions, averaging 250 words each. The captions are written mainly in Indonesian. Words that recur across them include saya, lain, ketika, mereka and satu.

ambon, maluku—tanah air—tempat pulang:

1. ibi, kucing penjaga rumahku. ibi pernah punya saudara bernama cala. cala ibi, nama mereka diambil dari novel cala ibi. cala mati. kini tersisa ibi yang perutnya buncit karena makan terus.

2. pekarangan belakang sajange.

3. meja menulis dan lilin-lilin. serta objek lainnya yang menemani saya merampungkan dua naskah puisi di tahun ini.

4. kumpulan esai toni morrison.

5. fery lama. hasil survei lokasi untuk. tapi karena rempah gunung tidak digelar di situ, barangkali ia dapat digunakan untuk menggelar sesuatu yang lain.

6. suatu hari patung pattimura itu kelihatan cantik dan berani.

7. suatu lokasi ketika hasa hasa jazirah di galala.

8. mengintip latihan terakhir di studio sebelum.

9. petang hari sebelum. senja seperti memeluk kami semua.

10. buku esai dan wawancara dengan pramoedya.

11. ruang tamu

12. berkah buku-buku cerita dongeng untuk

13. pose nobokov, kucing betina. belum sempat di-steril. saat ini beranak lagi sebanyak tiga ekor. anak-anaknya bernama: daun, air, dan batu.

14. senja di pekarangan belakang sajange sebelum musim hujan datang.

15. saya selalu berjodoh dengan pohon beringin. ini lokasi kemarin.

16. satu rumah tua yang bagus sekali. akan dipakai kapan-kapan.

17. buku-buku dari penulis perempuan.

18. bara & api. api mati meninggalkan bara. mereka senang bermain di atas kereta merah punya bapak.

19. meja menulis di pekarangan belakang sajange.

20. ambon manise di waktu malam.
perjalanan saya ke kuningan dan cirebon dalam rangka coastal community conference ke-2. CCC, begitu warga menyebutnya—adalah sebuah gelaran yang diinisiasi oleh arka kinari dan yayasan lintas batas. konferensi ini mempertemukan banyak manusia unik, dari malaysia sampai merauke. mereka hadir karena melakukan banyak hal baik bagi kampung, pesisir, dan tanah asal mereka. tetapi lebih dari itu, mereka adalah orang-orang yang percaya pada kebaikan: bahwa apa yang berasal dari tanah, pada akhirnya mesti dikembalikan kepada tanah.

satu kata yang terus muncul di kepala saya untuk menggambarkan perjalanan ini adalah: effortless. segala keterhubungan yang terjadi terasa mengalir alami, berjalan tanpa dipaksakan. ini pertama kalinya saya datang ke kuningan. pertama kali juga saya makan nasi yang dibungkus daun jati. dalam hati saya sempat berkata: semoga hati saya dapat kokoh seperti pohon jati.

setiap sesi terasa seperti ditempatkan dengan tepat pada koridornya. konferensi dibuka dengan berbagi kegagalan dan ditutup dengan berbagi kebanggaan, kesadaran baru, serta energi yang akan dibawa pulang sebagai bekal. rasanya seperti cukup.

setiap ritual yang saya ikuti—mulai dari pamit leluhur sampai mulih bari nyangking cai—terasa seperti pintu untuk menelaah hati sendiri. perlahan ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tinggal di kepala saya dan meluruhkan kegelisahan.

ketika sampai di cirebon, perasaan itu tidak berubah. semuanya terasa pas pada tempatnya. saya mulai memperhatikan bagaimana manusia memperlakukan manusia lain. bukan tentang siapa dia atau apa pencapaiannya, tetapi bagaimana ia hadir untuk orang lain.

di sana saya menemukan percakapan-percakapan yang melampaui basa-basi dan langsung menyentuh jantung. orang-orang dapat membuka dirinya, berbicara dengan jujur tentang isi hati mereka, tanpa rasa takut dan tanpa keraguan.

perjalanan selama seminggu ini menumbuhkan kesadaran baru dalam diri saya: manusia sesungguhnya adalah cermin satu sama lain. tanpa banyak bicara, kita bisa saling meraba hati.

terima kasih untuk keluarga besar di kuningan dan cirebon, lintas batas, arka kinari.

peluk sayang untuk semua.
di hari terakhir saya berada di amsterdam, saya berjalan tanpa alas kaki. di atas tanah yang dingin itu, hampir saja saya berbisik: saya ingin tinggal di sini. tetapi kalimat itu saya tahan kembali, sebab saya tahu dukun kecil di dalam diri saya sering kali mengabulkan permintaan-permintaan yang diucapkan dengan sungguh. jadi permintaan itu saya tunda dulu.

amsterdam selalu terasa seperti rumah. saya punya keluarga di jalan bali, kawan-kawan beyondwalls collective. dua hari sebelum pulang, saya singgah dan kembali bertemu keluarga wanua: suzanne, jeremy, glenda, armando, usi jermaine, ghilaine, tabitha, djerimo. kami duduk membentuk lingkaran, mengobrol tentang banyak hal yang menyenangkan, lalu menonton bersama draf video residensi wanua. ketika waktu pulang tiba, rasanya semua ingin berpelukan lebih lama.

di malam terakhir, saya makan malam di rumah monica dan niels, sambil mendengarkan sepotong lagu yang sedang mereka kerjakan. dan sekarang, saya juga sudah memiliki keluarga baru di read my world.

semua kesempatan dan kebaikan ini datang begitu saja kepada saya, mengalir tanpa banyak usaha. saya merasa beruntung dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki nilai yang sama. di mana saya dapat meletakkan hati tanpa banyak kuatir. saya juga merasa beruntung karena memilih hidup yang saya jalani sekarang dengan sungguh-sungguh. mungkin lebih dari itu, saya beruntung karena selalu percaya pada hidup tanpa ragu sedikit pun.

terima kasih sekali lagi, amsterdam, dan kota-kota kecil lain yang telah menerima saya singgah.

untuk sekarang, saya masih ingin merawat rumah bapak di ambon, mungkin satu atau dua tahun lagi, sambil membiarkan hati saya tetap terbuka pada kemungkinan-kemungkinan di masa depan. toh kini saya tahu, saya bisa tinggal di mana saja, dan kapan saja.
saya juga berkesempatan mengintip sebuah pameran menarik di museum arnhem, tentang ketelanjangan. tubuh-tubuh dipamerkan dalam berbagai bentuk dan cara, seolah ada upaya untuk menghayati ketelanjangan melalui beragam medium. saya lalu mulai bertanya-tanya: apakah ketelanjangan juga memiliki norma? adakah batas-batas yang tetap mengaturnya? tetapi pertanyaan lain kemudian muncul di kepala saya: benarkah ketika telanjang manusia sedang benar-benar telanjang? atau jangan-jangan, bahkan di dalam ketelanjangan pun manusia tetap mampu menyembunyikan sesuatu.

*

i also had the chance to glimpse another fascinating exhibition at arnhem museum, about nudity. bodies were displayed in many different forms and ways, as if there was an attempt to experience and contemplate nakedness through various mediums. it made me wonder: does nudity also carry its own norms? are there still boundaries that regulate it? but then another question appeared in my mind: when humans are naked, are they ever truly naked? or perhaps even within nakedness, people are still able to hide something.
berkunjung ke pameran lain di museum arnhem. sebelumnya saya sudah mendengar tentang pameran bakudengar, terutama karena beberapa kawan dari welora pictures di ambon turut mengirimkan satu proyek visual mereka: sebuah film pendek berjudul arika nusa.

sebelum masuk ke ruang pameran, kami sempat mengobrol dengan femke schouten korwa, salah satu inisiator di balik pameran ini. femke bercerita tentang bagaimana mereka akhirnya memutuskan untuk memberi nama pameran ini: bakudengar. sebuah frasa yang akrab dipakai di indonesia timur untuk menerjemahkan satu gagasan sederhana namun penting: kita ada untuk saling mendengar satu dengan yang lain. di titik itu, saya merasa ada sesuatu yang menarik—bahwa sebuah inisiatif pameran bisa lahir dari hasil rembuk bersama, dari keinginan untuk membuka ruang bagi percakapan.

saya juga merasakan ada gelombang besar yang sedang dipancarkan oleh generasi muda diaspora maluku dan diaspora papua di belanda. ada kerinduan yang kuat untuk kembali terkoneksi dengan kampung dan akar mereka. mereka sedang mencari, dan mungkin akan terus mencari, cara untuk menjawab dahaga tentang identitas dan jati diri yang membentuk siapa diri mereka hari ini.

ketika masuk ke pameran bakudengar, saya mencoba memperhatikan semuanya dari dekat. instalasi raksasa merangkul kobaran dari kolektif gegerboyo, dengan detail-detail yang begitu menggugah. lalu para-para karya dicky takndare, not an empty land karya maryanto, cerita tanah air karya fitri dk, dan beberapa karya menarik lainnya.

semuanya terasa saling terhubung. melawan, dan terus melawan.

*

before entering the exhibition space, we had a conversation with femke schouten korwa, one of the initiators behind this exhibition. femke shared the story of how they eventually decided to name the exhibition bakudengar—a phrase commonly used in eastern indonesia to express a simple yet important idea: that we exist to listen to one another. at that moment, i felt there was something deeply interesting about it—that an exhibition initiative could be born from collective discussion, from the desire to create space for conversations.

Thumbnails are unavailable for 10 of these 10 posts. Open a tile to view the post on Instagram.

tr's engagement

tr's engagement rate on Instagram is 2.27%, between 1% and 3%, or 1 to 3 likes and comments per 100 followers. On a typical post that comes to about 1 like or comment for every 44 followers. Likes outnumber comments by roughly 143 to 1, with 1,000 likes and 7 comments on an average post, so most reactions are taps rather than replies.

Engagement rate

2.27%

Avg likes
1K
Avg comments
7
Interactions : followers
1 : 44

Lookalike Creators

A free account lists creators whose audiences behave like this one, ready to shortlist and compare side by side.

Age & Gender

Unlocking shows how this audience splits across age bands and gender, charted from follower data.

Audience Location

Unlocking reveals the countries and cities where the most active followers of this account are concentrated.

Primary Language

Unlocking shows the languages this audience uses most in comments, interactions and the content it consumes.

Audience Interests

Unlocking lists the topics and categories this audience follows and engages with most often across the platform.

Authenticity

Unlocking scores how genuine the audience is, flagging fake, inactive or bot followers found in engagement patterns.

Audience Quality Score

Unlocking gives one overall audience quality score combining authenticity, engagement, follower activity and audience relevance.

Brand Affinity

Unlocking names the brands this audience already follows, mentions or engages with across social platforms.

Content Strategy

Unlocking breaks down the content pillars, tone and visual style this creator uses, and which formats perform best.

Commercial Insights

Unlocking shows collaboration types, an estimated pricing tier and a brand safety risk read for sponsored campaigns.

Industry Fit

Unlocking rates how well this creator and audience align with specific industry verticals and brand categories.

Research tr further

Flinque ranks Instagram creators in eCommerce/DTC, categories tr is filed under, and its free tools measure the same figures for any public account.

Frequently asked questions

These answers about tr are generated from the Instagram profile data Flinque holds for the account.

Who is tr?

tr (@theoresiarumthe) is a Grocery Store creator on Instagram, also filed under eCommerce/DTC. tr uses an Instagram professional account. The Instagram bio for tr runs to 6 words across 5 lines.

How many followers does tr have?

tr has 45,511 followers on Instagram (45.5K). tr follows 2,450 accounts, so the audience is roughly 19 times the size of the list followed. tr has built a substantial archive of 942 posts.

What is tr's engagement rate?

tr's engagement rate on Instagram is 2.27%, between 1% and 3%, or 1 to 3 likes and comments per 100 followers. On a typical post that comes to about 1 like or comment for every 44 followers. Likes outnumber comments by roughly 143 to 1, with 1,000 likes and 7 comments on an average post, so most reactions are taps rather than replies.

What does tr post about on Instagram?

Flinque files tr under Grocery Store, with eCommerce/DTC as a secondary category. Of the 10 most recent posts shown for tr, 5 are single images and 5 are carousels. The 5 recent Instagram captions Flinque holds for tr repeatedly use the words saya, lain, ketika, mereka and satu. tr writes those captions mainly in Indonesian. tr keeps 13 story highlights, which open with a free Flinque account.

How do I contact tr for a collaboration?

tr's contact details are not published on Flinque's public profile. Brands with a free Flinque account can shortlist tr and use Flinque's outreach tools wherever a contact route is on file.

tr's own Instagram profile is the one outbound link Flinque publishes for the account.

Public profile data sourced from Instagram. Flinque is not affiliated with tr.

Unlock tr's audience data